Dari Abu Sa’id Al Khudry, dari Rasulullah bersabda, “Berkata Musa, Wahai Rabb-ku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku senantiasa menyebut-Mu dengannya, dan aku berdoa kepada-Mu dengan hal tersebut”, jawab Allah terhadap Musa, “Katakanlah wahai Musa, Laa ilaaha illa Allah”, kata Musa, “Wahai Rabb-ku, semua hamba-mu bisa mengucapkan kalimat ini”, jawab Allah, “Wahai Musa, kalau sekiranya tujuh langit dan segala isinya (seluruh penghuninya) selain Aku (selain Allah) dan bumi yang tujuh, kalau semua itu diletakkan di satu timbangan dan kalimat Laa ilaaha illa Allah diletakkan di timbangan yang lainnya, maka yang berat adalah kalimat Laa ilaaha illa Allah.”
Imam Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Al Haitsami menyebutkan bahwa terdapat kelemahan di dalam hadits ini. Al Arnauth melemahkan hadits dengan riwayat ini di dalam takhrij beliau terhadap kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al Baghawi. Akan tetapi kisah cerita dalam hadits ini dikuatkan dengan hadits yang lainnya.
Abu Sa’id Al Khudry dan ayahnya merupakan sahabat Nabi Muhammad. Beliau dan Ibnu Umar pernah ditolak saat ingin mengikuti perang Uhud karena masih kecil dan belum mencapai usia baligh.
Penyebutan sifat berbicara bagi Allah
Dalam hadits di atas terdapat penyebutan salah satu sifat Allah yaitu sifat berbicara, Allah berbicara terhadap siapa dari hamba-Nya berdasar keinginan dan kehendak-Nya. Dalam ayat disebutkan bahwa Allah berbicara secara langsung terhadap Musa dengan sebenar-benar pembicaraan.
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An Nisa : 164)
Berdzikir dengan kalimat Laa ilaaha illa Allah
Dianjurkan seseorang untuk berdzikir dengan mengucapkan Laa ilaaha illa Allah secara penuh. Tidak dipotong-potong sebagian seperti amalan kaum sufi yang berdzikir secara berjamaah dengan menyebutkan kata Laa ilaaha illa Allah secara cepat, hingga menyingkat kalimat tersebut menjadi “illa Allah”, kemudian “Allah”, kemudian “hu”.
Nabi Musa menginginkan sesuatu amalan khusus bagi beliau, karena kalimat Laa ilaaha illa Allah diucapkan semua umat Islam, sehingga tidak ada kekhususan bagi Nabi Musa.
Allah ada di atas langit, ber-istiwa di atas Arsyi-Nya
Terdapat penyebutan bahwa Allah tidak termasuk penghuni langit. Allah tidak diliputi apapun dari ciptaan-Nya. Akan tetapi Allah ber-istiwa di atas Arsyi-Nya.
Keutamaan kalimat Laa ilaaha illa Allah
Dari Anas bin Malik, aku telah mendengar Rasulullah bersabda, Allah berfirman (hadits Qudsi), “Wahai sekalian anak cucu Adam (wahai manusia), kalau seandainya kalian mendatangi Aku dengan sepenuh bumi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), kemudian kalian menemui Aku dalam keadaan kalian tidak menyekutukan-Ku di dalam beribadah kepada Aku sedikitpun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi juga”. (HR Tarmidzi hasan)
Ibnu Rajab Al Hanbali menjelaskan bahwa barang siapa yang datang bersama tauhid dan memiliki dosa dan kesalahan sepenuh bumi, maka Allah akan datang dengan ampunan sepenuh bumi juga jika sempurna tauhid seorang hamba, ikhlas hanya kepada Allah, menegakkan syarat-syarat ibadah dengan hati, lisan, dan amalan tubuh. Atau dengan hati dan lisan ketika dalam keadaan sakaratul maut, maka Allah akan memberikan ampunan bagi seluruh dosa yang telah lalu dan hamba tersebut akan diselamatkan dari neraka. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dengan riwayat yang shahih karena banyak penguatnya.
Hadits diatas menunjukkan keutamaan orang yang bertauhid yang meninggal dalam keadaan mentauhidkan Allah.
011. Penjelasan Hadits Abu Sa_'id Al Khudri_121004 Qc-Ust Asykari.zip 2.4M
011. Penjelasan Hadits Abu Sa'id Al Khudri_121004 Qc-Ust Asykari.mp3 2.4M
|
Biografi ringkas: Al Ustadz Abu Karimah: Beliau adalah pemimpin dari Pondok Pesantren Ibnu Qoyim di Balikpapan. Beliau merupakan alumni dari Darul Hadits di Dammaj, Yaman tempat Asy Syaikh Muqbil mengajar. Sering diundang ke Jawa untuk mengisi kajian. |
Link di bawah ini menuju artikel yang sama
kalimat allah, kalimat-kalimat allah dengan penjelasan nya, penghuni langit, laa ilaaha illa allah, langit tujuh, Kalimat-kalimat Allah, ISI TUJUH LANGIT TUJUH BUMI, kisah penghuni langit, kalimat-kalimat islami, kesalahan kalimat bahasa jawa, laa ilaaha illa allaah, laa allaa, KEUTAMAAN RAMADHAN, kutbah jumat ustad al hakim, kumpulan kultum sakaratul maut, kisah langit dan penghuninya, kultum berat di timbangan, langit, langit 7, langit Allah ke 7,
Artikel yang berkaitan
Allah Mengharamkan Api Neraka Untuk Yang Mengucapkan Kalimat Syahadat Dengan Benar
Dari ‘Itban bin Malik, Rasulullah bersabda, “Maka sesungguhnya Allah mengharamkan terhadap api neraka bagi siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah (barang siapa yang mengucapkan dan membenarkannya) yang dia mengucapkannya semata-mata untuk mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ini … Continue reading
Pertanyaan Pada Hari Kiamat
Berikut khutbah Jumat yang disampaikan oleh Al Ustadz Dzulqarnain, dapat linknya dari Thullabul Ilmiy Selamat mendengarkan. Semoga dengan rekaman kutbah jumat berikut ini dapat dijadikan contoh bagi umat Islam yang ingin memberikan materi khutbah jum’at. Dan bagi ikhwah yang ingin … Continue reading
Dua Kalimat Syahadat, Nabi Isa, Syurga, Neraka
Dari sahabat Ubadah bin Shamit, telah bersabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam, “Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang benar untuk disembah) selain Allah semata yang tidak ada tandingan bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa Isa … Continue reading
Mengingat Dahsyatnya Hari Kiamat – Surat Al Haqqah
Merupakan kelanjutan dari daurah beliau di Jakarta. Al Ustadz Dzulqarnain membawakan penjelasan dari Surat Al Haqqah agar kita ingat kembali dengan dahsyatnya hari kiamat. File berikut iLmoe kopi dari rekaman kajian yang di upload oleh Problema Muslim. Semoga bermanfaat. Berikut … Continue reading
Hak Allah Terhadap Hamba dan Hak Hamba Terhadap Allah
Dari sahabat Muadz bin Jabbal, aku membonceng di belakang Rasulullah di atas keledai, Rasulullah berkata, Ya Muadz, tahukah engkau apa haknya Allah terhadap hamba-Nya, dan apa haknya hamba terhadap Allah (tatkala hamba sudah menunaikan haknya Allah) ?, jawab Muadz, Wallahu … Continue reading
Pingback: Berat kalimat Laa ilaaha illa Allah melebihi 7 langit, 7 bumi, dan segala penghuninya pada timbangan di hari kiamat | alkatafangi