Bab keutamaan tauhid dan apa-apa yang dihapus dari berbagai macam dosa
Bab keutamaan tauhid dan apa-apa yang dihapus dari berbagai macam dosa
Tauhid yang dimaksud adalah tauhid uluhiyah. Bab keutamaan tauhid tidak berarti bahwa tauhid hanyalah merupakan perkara sunnah, yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mengapa. Akan tetapi tauhid merupakan perkara yang wajib, barang siapa yang menyimpang atau keluar dari tauhid maka dia telah keluar dari jalan yang lurus. Allah menyebutkan keutamaan tauhid dan besarnya pahala bagi mereka yang mengerjakan dalam rangka memberikan semangat bahwa ibadah tidak sebatas dikerjakan saja, akan tetapi terdapat balasan-balasan setelahnya.
Hal ini sebagaimana hadits Nabi yang menyatakan bahwa shalat berjama’ah di masjid lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendiri di rumah. Hadits ini tidak mengandung pengertian bahwa shalat berjama’ah di masjid itu hukumnya sunnah, sehingga orang yang mengerjakan shalat berjamaah di masjid mendapatkan keutamaan 27 derajat lebih tinggi, akan tetapi hadits ini merupakan penyemangat bagi kaum muslimin agar mereka tahu bahwa perintah ibadah itu bukan sebatas mengerjakan kewajiban saja, akan tetapi terdapat balasan yang besar di belakangnya. Kewajiban shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki dijelaskan di hadits-hadits yang lainnya.
Dihapusnya dosa bagi orang yang mengerjakan tauhid merupakan salah satu keutamaan tauhid. Sehingga penyebutan judul Bab Keutamaan Tauhid diikuti dengan contohnya yaitu tauhid dapat menghapus dosa, menunjukkan bahwa keutamaan tauhid yang paling utama adalah dihapusnya dosa-dosa.
Firman Allah, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kedzaliman, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan hidayah.” (Al An’am:82)
Kedzaliman secara bahasa bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yang memiliki lawan kata keadilan, karena keadilan bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Tatkala ayat Al-An’am : 82 ini turun, ayat ini menimbulkan keresahan di kalangan sahabat. Karena kedzaliman terdapat di semua hal, ada kedzaliman kepada Allah, diri sendiri (dengan maksiat), orang lain, dll. Sehingga jika Allah memberikan pujian kepada kaum mu’minin yang tidak pernah dzalim, maka hal ini sangat berat dirasakan oleh para sahabat. Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, siapa orang yang tidak pernah berbuat dzalim ?, beliau jawab, Sesungguhnya makna dzalim disini tidak seperti yang kalian kira, akan tetapi yang dimaksud adalah kesyirikan.
Dalam surat Luqman disebutkan nashihat Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirk kepada Allah, karena kesyirikan merupakan kedzaliman yang sangat besar.”
Sehingga makna ayat Al-An’am di atas yaitu kaum mu’minin yang tidak menodai keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka akan mendapatkan keamanan dan petunjuk.
Terdapat dua macam keamanan:
- Keamanan secara mutlak = bagi orang yang sempurna keimanannya tidak akan disiksa sama sekali.
- Keamanan secara umum = bagi orang yang menodai keimanannya dengan perbuatan maksiat, maka dia terdapat kemungkinan untuk disiksa terlebih dahulu.
Tidak menodai keimanannya baik dengan syirik besar atau syirik kecil.
Kedzaliman ada dua macam :
- Kedzaliman yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam yaitu syirik besar sebagaimana disebutkan dalam surat Luqman.
- Kedzaliman yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam seperti bermaksiat, mencuri harta orang lain, dll.
008. Bab Keutamaan Tauhid_210904 Qc-Ust Asykari.zip 2.1M
008. Bab Keutamaan Tauhid_210904 Qc-Ust Asykari.mp3 2.1M
Saran Antum