Archive

Posts Tagged ‘timbangan’

Berat kalimat Laa ilaaha illa Allah melebihi 7 langit, 7 bumi, dan segala penghuninya pada timbangan di hari kiamat

Dari Abu Sa’id Al Khudry, dari Rasulullah bersabda, “Berkata Musa, Wahai Rabb-ku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku senantiasa menyebut-Mu dengannya, dan aku berdoa kepada-Mu dengan hal tersebut”, jawab Allah terhadap Musa, “Katakanlah wahai Musa, Laa ilaaha illa Allah”, kata Musa, “Wahai Rabb-ku, semua hamba-mu bisa mengucapkan kalimat ini”, jawab Allah, “Wahai Musa, kalau sekiranya tujuh langit dan segala isinya (seluruh penghuninya) selain Aku (selain Allah) dan bumi yang tujuh, kalau semua itu diletakkan di satu timbangan dan kalimat Laa ilaaha illa Allah diletakkan di timbangan yang lainnya, maka yang berat adalah kalimat Laa ilaaha illa Allah.”

Imam Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Al Haitsami menyebutkan bahwa terdapat kelemahan di dalam hadits ini. Al Arnauth melemahkan hadits dengan riwayat ini di dalam takhrij beliau terhadap kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al Baghawi. Akan tetapi kisah cerita dalam hadits ini dikuatkan dengan hadits yang lainnya.

Abu Sa’id Al Khudry dan ayahnya merupakan sahabat Nabi Muhammad. Beliau dan Ibnu Umar pernah ditolak saat ingin mengikuti perang Uhud karena masih kecil dan belum mencapai usia baligh.

Penyebutan sifat berbicara bagi Allah

Dalam hadits di atas terdapat penyebutan salah satu sifat Allah yaitu sifat berbicara, Allah berbicara terhadap siapa dari hamba-Nya berdasar keinginan dan kehendak-Nya. Dalam ayat disebutkan bahwa Allah berbicara secara langsung terhadap Musa dengan sebenar-benar pembicaraan.

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An Nisa : 164)

Berdzikir dengan kalimat Laa ilaaha illa Allah

Dianjurkan seseorang untuk berdzikir dengan mengucapkan Laa ilaaha illa Allah secara penuh. Tidak dipotong-potong sebagian seperti amalan kaum sufi yang berdzikir secara berjamaah dengan menyebutkan kata Laa ilaaha illa Allah secara cepat, hingga menyingkat kalimat tersebut menjadi “illa Allah”, kemudian “Allah”, kemudian “hu”.

Nabi Musa menginginkan sesuatu amalan khusus bagi beliau, karena kalimat Laa ilaaha illa Allah diucapkan semua umat Islam, sehingga tidak ada kekhususan bagi Nabi Musa.

Allah ada di atas langit, ber-istiwa di atas Arsyi-Nya

Terdapat penyebutan bahwa Allah tidak termasuk penghuni langit. Allah tidak diliputi apapun dari ciptaan-Nya. Akan tetapi Allah ber-istiwa di atas Arsyi-Nya.

Keutamaan kalimat Laa ilaaha illa Allah

Dari Anas bin Malik, aku telah mendengar Rasulullah bersabda, Allah berfirman (hadits Qudsi), “Wahai sekalian anak cucu Adam (wahai manusia), kalau seandainya kalian mendatangi Aku dengan sepenuh bumi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), kemudian kalian menemui Aku dalam keadaan kalian tidak menyekutukan-Ku di dalam beribadah kepada Aku sedikitpun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi juga”. (HR Tarmidzi hasan)

Ibnu Rajab Al Hanbali menjelaskan bahwa barang siapa yang datang bersama tauhid dan memiliki dosa dan kesalahan sepenuh bumi, maka Allah akan datang dengan ampunan sepenuh bumi juga jika sempurna tauhid seorang hamba, ikhlas hanya kepada Allah, menegakkan syarat-syarat ibadah dengan hati, lisan, dan amalan tubuh. Atau dengan hati dan lisan ketika dalam keadaan sakaratul maut, maka Allah akan memberikan ampunan bagi seluruh dosa yang telah lalu dan hamba tersebut akan diselamatkan dari neraka. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dengan riwayat yang shahih karena banyak penguatnya.

Hadits diatas menunjukkan keutamaan orang yang bertauhid yang meninggal dalam keadaan mentauhidkan Allah.

[   ] 011. Penjelasan Hadits Abu Sa_'id Al Khudri_121004 Qc-Ust Asykari.zip 2.4M
[SND] 011. Penjelasan Hadits Abu Sa'id Al Khudri_121004 Qc-Ust Asykari.mp3 2.4M
Bookmark and Share
 

Download Kajian

10 Hak yang Harus Ditunaikan Seorang Hamba Baik Kepada Allah, Islam, atau Sesama Manusia bagian 2

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (Al-An’am:152) dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Al-An’am:153)

6. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.

Tidak diperbolehkan menggunakan harta anak yatim karena dikhawatirkan hal ini dapat menghilangkan harta mereka. Pengertian anak yatim dalam syariat adalah anak yang sudah ditinggal oleh ayahnya dan belum mencapai usia baligh. Terkecuali jika digunakan untuk usaha yang pasti mendatangkan keuntungan baik di dunia atau di akhirat.
Imam Malik menjelaskan makna ‘hingga sampai ia dewasa’ adalah sampai anak tersebut telah mencapai usia baligh, telah hilang kebodohan yang ada, mempunyai akal yang sehat, punya kekuatan baik secara akal atau jasmani untuk memanfaatkan hartanya.

7. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.

Apabila dalam jual beli pihak penjual menyembunyikan dan mereka berdusta maka akan dihilangkan berkah dari jual beli mereka. Dan Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Oleh karena itu jika dia telah berusaha untuk berbuat jujur, menyempurnakan takaran dan timbangan, maka dia tidak mendapatkan dosa.

8. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)

Harus berbuat adil kepada siapapun termasuk orang yang masih memiliki hubungan saudara. Dan jangan sampai rasa benci terhadap orang lain menyebabkan kita berbuat tidak adil terhadap mereka. Dan kita diperintahkan untuk berbuat adil karena hal tersebut lebih dekat kepada ketakwaan.
Pengertian adil di dalam syariat adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, bukan berdasarkan asas kesamaan. Misalkan dalam pembagian harta warisan seorang laki-laki mendapatkan dua bagian perempuan. Juga dalam kisah seseorang yang tidak menyetujui tindakan Rasulullah memberikan harta rampasan perang lebih banyak kepada sebagian sahabat yang lain dengan tujuan untuk menguatkan mereka yang baru masuk Islam, orang tersebut memerintahkan Rasulullah untuk berbuat adil. Dia menganggap bahwa keadilan itu berarti mendapatkan hak sama rata. Kalau Rasulullah tidak bisa berbuat adil, maka siapa yang dapat berbuat adil ? Dicontohkan oleh Rasulullah dalam hadits beliau berkata, “Demi Allah, kalau sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.

9. Memenuhi janji Allah

10. Mengikuti jalan Rasulullah

Mengikuti apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan tidak keluar dari jalan yang lurus ini. Hal ini dikarenakan apabila kita mengikuti jalan hidup selain dari Rasulullah maka hal ini akan mengakibatkan perpecahan. Perpecahan terjadi karena orang-orang tidak mengikuti kebenaran, apabila setiap orang berjalan di atas kebenaran maka tidak akan terjadi perpecahan.

[SND] 005. Firman Allah_...Jangan Kalian dekati Harta Anak Yatim..._180904 Qc-Ust Asykari.mp3 3.1M
Bookmark and Share
 

Download Kajian